HikmahIslam

Keutamaan hanya diketahui oleh orang yang memiliki keutamaan….

Arsip untuk ‘Bacaan Ringan’ Kategori

Kedermawanan

Ditulis oleh HikmahIslam di/pada April 13, 2007

Pada zaman dahulu, ada seorang lelaki yang beriman tinggal bersama
dengan isteri dan anak-anaknya. Mereka tinggal dalam sebuah gubuk
sederhana. Meskipun mereka jauh dari kilauan dan gemerlap materi, hati mereka
dipenuhi dengan kasih sayang.

Pada suatu hari lelaki beriman itu berada dalam kesulitan,
sampai-sampai isterinya berkata kepada lelaki itu, “Kini simpanan kita tinggal satu
dirham saja.” Lelaki itu mengambil satu dirham tersebut dan pergi ke
pasar. Dengan uang itu dia akan membeli sedikit makanan. Dalam keadaan
bertawakal kepada Tuhan, dia tiba di pasar. Baru beberapa langkah dia
berjalan, tiba-tiba terdenagar suara gaduh. Seseorang berkata dengan
marah, “Engkau harus membayar utangmu. Jika tidak, aku tidak akan membiarkan
engkau pergi.”

Lelaki yang berdiri di hadapan orang itu menundukkan kepalanya karena
malu. Sang lelaki yang beriman itu mendekati kedua orang yang berselisih
itu dan dengan suara yang lembut bertanya, “Baiklah, katakanlah apa
yang menyebabkan kalian berselisih paham.”

Lelaki yang berhutang berkata, “Lelaki ini telah menjatuhkan harga
diriku hanya karena uang satu dirham padahal saat ini aku tidak mampu untuk
melunasi utang tersebut.”

Lelaki beriman itu berfikir sebentar dan kemudian, uang satu dirham
yang dimilikinya itu diberikannya kepada si penghutang. Akhirnya,
terjalinlah persahabatan antara orang itu tadi. Lelaki yang berutang itu
mendoakan keselamatan buat lelaki yang beriman itu serta mengucapkan
kesyukurannya.

Hati lelaki beriman itu dipenuhi rasa gembira karena berhasil menolong
orang lain. Lalu diapun pulang ke rumahnya. Di pertengahan jalan dia
terpikir, “Sekarang, bagaimana aku harus memberi jawaban kepada isteri
ku? Jika dia memprotes, aku akan membiarkannya karena itu haknya.”

Sesampainya di rumah, dia menceritakan apa yang telah terajdi.
Isterinya adalah juga seorang perempuan yang baik dan beriman. Dia tidak
memprotes suaminya, malah berkata, “Engkau telah melakukan sesuatu yang baik
hari ini dan engkau telah memelihara harga diri lelaki itu. Allah pasti
akan memberi balasan kepadamu. Ambillah tali yang ada di rumah kita ini
dan juallah di pasar. Mudah-mudahan, uang tersebut bisa engkau gunakan
untuk membeli makanan.

Lelaki beriman itu merasa sungguh gembira dengan sikap isterinya
tersebut. Dia kemudian mengambil tali itu dan membawanya ke pasar. Namun,
betapapun dia berusaha keras untuk menjual tali itu, tidak ada seorang pun
yang ingin membelinya. Dengan rasa putus asa, dia pulang ke rumahnya.
Di pertengahan jalan pulang, dia bertemu dengan nelayan penjual ikan
yang juga gagal menjual ikannya. Lelaki beriman itu menghampirinya dan
berkata, “Tidak ada orang yang ingin membeli ikanmu dan tidak juga taliku.
Bagaimana menurutmu bila kita berdua saling menukar barang ini?”

Si nelayan berpikir dan kemudian berkata, “Aku tidak mempunyai tempat
untuk menyimpan ikan ini di rumah. Lebih baik engkau ambillah ikan ini
dan sebagai gantinya aku akan menjadi pemilik talimu yang mungkin di
satu hari nanti berguna buatku.”

Akhirnya, lelaki beriman itu membawa pulang ikan ke rumahnya. Isterinya
dengan gembira segera memasak ikan tersebut. Ketika perut ikan dibelah,
dengan penuh takjub dia menemukan sebuah mutiara yang berharga di
dalamnya. Ya, suami istri mukmin dan baik hati itu memperoleh harta yang
banyak.

Lelaki itu membawa mutiara ke toko emas untuk dijual dan mutiara itu
terjual dengan harga seratus dirham. Lelaki itu dan isterinya bersyukur
kepada Tuhan yang telah memberikan mereka kekayaan. Mereka pun tidak
lupa untuk tetap berbuat baik dengan membagi-bagikan sebagian uang mereka
kepada orang-orang miskin lainnya. Lelaki beriman itu berkata kepada
isterinya: Tuhan telah mengaruniakan kepada kita nikmat, kesenangan dan
kemewahan. Kini sebagai tanda kesyukuran atas nikmat ini marilah kita
membagikan kekayaan yang ada kepada mereka yang memerlukan. Siapakah yang
lebih layak dari sang nelayan yang telah bersusah payah menangkap ikan
di laut itu?”

Lelaki beriman itu pergi ke pasar dan mencari si nelayan itu. Setelah
berusaha keras, akhirnya dia bertemu dengan sang nelayan dan dia pun
menceritakan pengalamannya. Dia berkata, “Aku ingin memberi sebagian dari
uang ini kepadamu.” Meskipun miskin, nelayan itu adalah seorang lelaki
yang baik hati. Dia berkata, “Wahai teman, apa yang engkau dapatkan di
dalam perut ikan itu disebabkan karena kebaikanmu dan aku tidak
bersedia mengambil apa-apa darimu.”

Lelaki beriman itu menjawab, ”Tuhan telah memberi ilham kepadamu
sehinggakan dengan niat baik engkau telah menukar ikan milikmu dengan taliku
agar aku dapat mengenyangkan perut isteri dan anak-anakku. Ketahuilah,
apa yang ingin aku berikan kepadamu ini adalah hadiah bagi niat baikmu
itu. Tuhan menginginkan agar engkaupun menikmati nikmat yang Dia
berikan.”

Akhirnya, nelayan tersebut menerima uang itu dan mengucapkan syukur
kepada Tuhan atas kebaikan dan karunia Tuhan. Dengan cara ini, Tuhan telah
memberi kemuliaan kepada lelaki beriman dan isterinya itu lewat
ujian-Nya. Dalam ketiadaan harta, mereka tetap bersabar dan dalam keadaan
berkecukupan, mereka mengucapkan bersyukur kepada Tuhan dan membagi nikmat
itu dengan orang lain.

Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata: “Barang siapa yang
membantu meringankan kesulitan orang mukmin, Tuhan akan memberi kemudahan
kepadanya dunia dan akhirat.”

Ditulis dalam Bacaan Ringan, Hikmah | 4 Komentar »

Kuatnya Tekad

Ditulis oleh HikmahIslam di/pada April 13, 2007

Pada zaman hidupnya Rasulullah, hiduplah seorang pemuda tampan bernama
Sahib. Ia tinggal bersama ayah dan ibunya di Yaman dengan bahagia. Ayah
Sahib adalah seorang pelayan raja Khosrou, seorang raja Iran di Yaman.
Hingga suatu hari, tentara Romawi menyerang Yaman dan Sahib termasuk di
antara tawanan Yaman yang dibawa ke kota Roma. Akhirnya, Sahib
menjalani hidup sebagai seorang budak di Roma dan di sana ia berusaha untuk
mengenali budaya dan ilmu orang-orang Romawi.

Pada suatu hari, datanglah seorang pedagang Arab ke Roma. Ketika ia
melihat Sahib, dia langsung tertarik dan membeli pemuda tampan itu.
Pedagang Arab yang bernama Abdullah ibni Jud’an itu merupakan salah satu
hartawan Mekah dan Sahib pun dibawanya ke kota Mekah untuk dijadikan
sebagai pelayan di rumahnya. Pada suatu hari, Sahib mendengar berita mengenai
seruan Rasulullah kepada warga Mekah. Dia pun berusaha untuk mengenal
agama baru ini dengan lebih mendalam. Sahib juga mendengarkan kata-kata
dari pihak penentang Rasulullah dengan sikap objektif, namun dia
mendapati bahwa pendapat mereka itu tak lebih dari kejahilan, fanatisme, dan
kebencian terhadap Rasulullah. Akhirnya, pada satu hari tanpa
sepengetahuan tuannya, Sahib pergi ke rumah Muhammad saaw.

Dengan penuh kehati-hatian karena khawatir terlihat oleh kaum
musyrikin, Sahib melangkah menuju rumah Rasulullah. Menjelang sampai di sana,
tampaklah olehnya Ammar bin Yasir, yang juga merupakan seorang budak.
Ammar yang mengenali Sahib dan mengetahui keluasan pengetahuan budak itu,
bertanya:

Ammar : Wahai temanku Sahib, kemanakah engkau akan pergi?

Sahib : Aku ingin ke rumah Muhammad. Aku ingin mengetahui lebih dalam
tentang ajaran yang disampaikan olehnya.

Ammar : Sahib, aku telah mendengar ucapannya. Percayalah, ada kekuatan
besar di dalam jiwa dan nurani Muhammad. Kekuatan ini sedemikian
besarnya sehingga ia dapat menarik semua manusia ke arahnya, kecuali mereka
yang tidur dalam kelalaian.

Ammar yang melihat betapa Sahib dengan penuh perhatian dan
takjub menunggu kelanjutan kata-katanya, memegang tangan Sahib dan
menatap mata temannya itu dalam-dalam.

Ammar : Sahib, Muhammad mengatakan bahwa Tuhan itu esa dan hanya Dia
yang layak disembah. Berhala hanyalah batu dan kayu semata. Muhammad
berkata mengenai kasih sayang, saling mencintai, persahabatan, serta
kejujuran. Dia berkata kebaikan hanya dapat dihasilkan di bawah naungan
ketaatan pada Tuhan yang Esa. Berlandaskan kepada ayat-ayat Ilahi yang
diturunkan kepadanya, Muhammad memberi nasihat supaya kita melepaskan diri
dari kezaliman, kebohongan, pengkhianatan, peperangan, dan permusuhan.
Muhammad menyeru manusia agar berpegang teguh kepada ajaran Islam yang
merupakan agama penyelamat. Muhammad saaw juga mengetahui hakikat
sejarah zaman lampau, baik zaman Nabi Musa, Nabi Isa dan Maryam serta para
nabi Ilahi lainnya. Marilah kita bersama-sama ke rumahnya dan aku akan
membawamu kepadanya.

Ammar bin Yasir kemudian membawa Sahib menemui Rasulullah
saaw. Rasul menyambut kedatangan Sahib dengan penuh kehangatan dan
keramahan. Wajah Rasulullah yang tenang dan menarik, kata-katanya yang
memikat dan ayat-ayat wahyu yang indah, membuat jiwa dan nurani Sahib menjadi
bergelora. Di saat matahari kian tenggelam, Sahib pun keluar dari rumah
Rasulullah dengan wajah dan hati yang disinari cahaya keimanan. Sahib
telah memeluk agama Islam. Tidak lama kemudian, Abdullah ibni Jud’an
mengetahui bahwa budaknya telah masuk Islam. Ia menghampiri Sahib dengan
kemarahan.

Ibni Jud’an: Wahai Sahib, bukankah engkau pernah melihat kaisar Roma
dan melihat istana besar Raja Khosrou?! Mengapa kini engkau bisa
terpengaruh oleh kata-kata Muhammad?

Sahib menjawab dengan suara yang penuh keyakinan dan
keimanan.
Sahib: Kekuatan dan kekuasaan yang aku lihat dan aku dengar dari
Muhammad tidak pernah kulihat di istana Kaisar Romawi maupun Raja
Khosrou.

Sahib pun disiksa oleh tuannya, sebagaimana kaum muslimin
Mekah lainnya saat itu juga diganggu dan disiksa oleh orang-orang
musyrik. Kemudian, Sahib berhasil bebas dari tuannya dan diapun berprofesi
sebagai pedagang. Dari hasil perdagangannya, dia berhasil mengumpulkan
sedikit harta. Ia kemudian mengambil keputusan untuk berhijrah ke Madinah
seperti yang disarankan oleh Rasulullah saaw. Dengan berbekal sedikit
harta, Sahib lalu memulai perjalanannya ke Madinah. Di tengah
perjalanan, ia dihadang beberapa orang musyrik yang menunggang kuda dan
bersenjata.

Penunggang kuda itu berkata kepada Sahib dengan kasar:

Penunggang kuda : Wahai Sahib, Abu Sufyan memerintahkan supaya kami
mengembalikan engkau ke Mekah.

Sahib : Katakan kepadanya bahwa aku tidak akan pulang.

Penunggang kuda : Jika demikian, kami akan mengambil hartamu dan
membawanya ke Mekah. Ketika itu, engkau terpaksa mengikuti kami.”

Kemudian para penunggang kuda itu merebut tali unta dari
tangan Sahib dan membawanya ke arah Mekah. Di punggung unta itu, terikat
seluruh harta benda milik Sahib. Sahib berteriak-teriak melampiaskan
kemarahannya. Namun akhirnya ia terduduk tak berdaya. Ia merasa amat
bingung. Haruskah ia kembali ke Mekah agar dapat memiliki lagi semua harta
bendanya itu ataukah ia memelihara imannya dan meneruskan hijrah ke
Madinah dengan tangan kosong?

Perlahan-lahan terdengar suara dari dalam hati Sahib yang
menyadarkannya dari kegundahan. Sahib pun kembali teringat kepada suara Rasulullah
yang dengan merdu menyampaikan ayat-ayat Ilahi. Ditatapnya dari kejauhan
kaum musyrik penunggang kuda yang merebut untanya itu, yang semakin
jauh melangkah ke arah Mekah. Namun Sahib telah menguatkan tekadnya. Ia
mengambil keputusan untuk meneruskan langkah menuju Madinah dan berhijrah
dengan penuh kepasrahan dan harapan atas rahmat Allah.

Ditulis dalam Bacaan Ringan, Hikmah | Leave a Comment »

Cinta

Ditulis oleh HikmahIslam di/pada April 4, 2007

cinta tidak dapat dilihat dengan hari atau zaman atau tempat atau oleh harta dan kedudukan..
cinta tidak dapat dilihat dengan mata atau dengan pemikiran…..
cinta hanya dapat dilihat dengan hati…
cuma hati yang tau hati….
kedekatan kita kepada Allah membuka hati kita untuk melihat hati yang lain…
kedekatan kita kepada Allah menyebabkan baiknya hubungan kita dengan orang yang kita cintai…
jika cinta kita kepada Allah kuat maka cinta kita kepada orang yang kita cintai akan kuat…

Ditulis dalam Cinta | Leave a Comment »

Ali Bin Mahziyar

Ditulis oleh HikmahIslam di/pada Maret 16, 2007

Ali Bin Mahziyar narrates a true story:

One day while I was sleeping I heard a voice saying “Oh! my son come this year to the house of Allah (Kaaba). Come this year and you will see your lmam-e Zaman.” I was awakened from sleep and was very happy.

Thereafter I did not return to sleep and remained awake through out the night. Before he sunrise I performed my shalat and with the rising of the sun I went to my friends and gather them all in one place and set out for Mecca.

In Mecca every night I used to run from one place to the other as if in search of something which I had lost. Twenty times I had come to Mecca for Haj with the hope that I may feast my eyes on the illumineous and glorious face of my beloved Heaving a deep sigh I said to myself that if this time I could not see him ….? 0 Allah help me and enable me to see my Master, my Imam.

One night in Masjadul Haram near the house of Allah I was anxiously waiting for him. I was just thinking that when there would be less rush I would perform Tawaaf, as usually I had been performing my Tawaaf and Ziarat.

Then I saw a youth that was very handsome and nicely dressed. When he came nearer he addressed me and asked me “From which place are you ? “From Ahwaz”, I replied. He said, “Do you Ibne KhazeeIi.” I said “I knew him very well but he has died”. The youth heaved a sigh of sorrow and said, “May Allah pardon him. lbne Khazeeli was one of the friends of Imam Zaman. In the day he used to fast and had been spending his nights in prayers.” Again he asked, “Well you might be knowing Ali Bin Mahziyar.”

I was filled with joy and replied, “I am Ali Bin Mahziyar.” “You are Ali Bin Mahziyar If so then be proud of yourself,” said the youth and continued, “what work have you here and what are you thinking this time?I said, “I have come here so as to see my Imam. He replied, “You have done well, you are welcome. I am giving you the glad tidings. The Master has directed me to send for you. Now go back to where you are staying. I will be waiting for you on a certain place at midnight.”

Overwhelmed with joy I went back to my house. There was no sleep in my eyes as I was restlessly awaiting for the approach of midnight and all the time thinking whether I would be able to see my Master (my Imam), whether I will’ attain that status which will make me worthy to see my Imam. Then I collected my belongings and with my luggage started towards the promised place. When I reached there I saw the same man waiting for me. I bade Salam to him. He came forward and gave me the good news that I was fortunate enough because my Imam had sent for me.
We both started walking and passed on through Mena and Arafat and went so far that we reached the valley down the rearside of Taif. He directed me to stay for a while and perform Shalatu Layl . We stayed there till the time of Shalatu Layl approached.

After the performance of Shalat Fajr(Subh) we reached on the upward side of Taif. Oh! what a wonderful place, what a pleasant and beautiful atmosphere. The trees and the green fields. The sound of the water flowing from the brooks, the chirping of the birds made me completely lost and I began thinking whether I was seeing a dream.
The youth stopped and addressed me “Look carefully at the side I am pointing out a miraculous place to you.” Oh ! I saw a wonderful piece of land. The most soul-refreshing breeze loaded with the fragrance of the flowers of spring season was coming towards our side from that land. Th youth with still more concentration said ‘Look .there and concentrate and see whether you can see anything at the top of the rock.”

“I see a black camp,” I replied. The off shoot of light has been illumining the entire surrounding
The youth said “This is your object the one which you were waiting for. This is the camp of lmam Zaman (AS.).” I was indescribably filed with joy. I screamed, ‘ Please do whatever you can but take me to that place as soon a possible” “Don’t make haste.” the youth replied, “very soon I shall take you to the service of lmam Zaman”. We had not gone far when the youth fold me to get down and walk by foot. He told me to leave the rein of my camel and set it free. “Who would look after my came “ I asked. “This is a land of refuge and peace, the youth replied. Don’t worry about anything here. Be assured of it.’’

When we reached the camp the youth stopped and said, “Wait here I will go inside and get permission for you”. Outside the camp I was very much restless and was very impatiently counting every minute as to when I would get the permission. Meanwhile the youth came out from the tent and said, “Master is pleased to grant permission to you, go and meet him.”

I went inside the camp and saw Imam (A.S.) sitting on a felt carpet resting against the fiber pillow. I went closer and saw the glorious face of the Imam. I bade Salam and he replied it. I smelt the fragrance coming out from him. He very politely and pleasingly asked me, “How are my Shias.” I said, “They are living a very hard life in the regime of Bani Abbas.” He said, “The day is approaching when you will have dominance over them and they will be humiliated and demoralized” Afterwards he proclaimed, “My father has said that the earth will never be left without his representative appointed for guidance-of the people.”

However I remained guest of Imam Zaman (A.S. ) for some days. During this period I remained closed with Imam Zaman AS. He solved whatever difficulties I had. Hereinafter I intended to go back to my city. When I went to say good-bye to him I had fifty thousand Dirham with me which I offered to Imam Zaman but he did not accept saying that it was for my travelling expenses. He prayed for me and said good-bye to me. At last I could realise my old dream.

My friend, “Remember that whoever hopes to succeed in any work in life should try and adopt the right path and have a firm will.”

Ditulis dalam Bacaan Ringan, Hikmah | Leave a Comment »

…Tahukah kita….

Ditulis oleh HikmahIslam di/pada Maret 13, 2007

Tahukah kita seberapa besar Bumi ini?
Tahukah kita seberapa besar Tata Surya?
Tahukah kita seberapa besar Galaxi Bima Sakti?
Tahukah kita ada berapa Galaxi di Alam ini?
Tahukah kita jarak antar Galaxi di alam ini?
Tahukah kita lebar dan jauh serta luas setiap Galaxi?
Tahukah kita jumlah luas seluruh Galaxi yang ada di alam ini?
Tahukah kita batas alam ini?
Jika Alam ini terbatas, Tahukah kita setelah batasan itu adalah apa?
Tahukah kita siapa yang memiliki semua alam in?
Tahukah kita siapa yang berkuasa di alam ini?
Jika kita tahu bahwa Allah adalah penguasa Alam ini dan Penguasa semua Alam,
Mengapa kita melupakanNya?
Tahukah kita mengapa kita tidak khusyuk dalam shalat dan dalam ibadah-ibadah yang lain?
Jika kita bertemu dengan orang yang lebih baik dan lebih terhormat dari kita serta sangat menghormati dan menyayangi kita,apa yang akan kita lakukan?
Allah MahaTinggi, Mahabaik, MahaMulia dan MahaPenyayang.
Bisakah kita menghitung seluruh pemberian Allah?
Tahukah kita tanpa RahmatNya kita tidak akan hidup?
Tapi, Mengapa kita melupakanNya?
Tahukah kita tanpa bantuanNya kita tidak akan bisa bergerak untuk nafas, makan ,…?
Ketahuilah bahwa Allah selalu berasama kita(dimanapun kita berada Dia ada)!
Ketahuilah bahwa Allah tidak melupakan kita!
Ketahuilah pintu RahmatNya selalu terbuka untuk hamba-hambaNya!
Ketahuilah bahwa Allah selalu senang menerima hambaNya yang kembali kepadaNya!
Ketahuilah bahwa selalu menjawab seluruh panggilan hamba-hambaNya!
Ketahuilah bahwa Allah menjawab 3 kali panggilan hamba-hambaNya yang bertobat!

……..Allah mencintai kita……..
….akan tetapi kita melupakanNya…
…Marilah kita kembali kepadaNya…
…..sebelum pintuNya tertutup……
………….untuk kita………….

Ditulis dalam Bacaan Ringan, Puisi | 1 Komentar »

Bismillah

Ditulis oleh HikmahIslam di/pada Maret 1, 2007

1.”Bismillâh” merupakan sumber berkah dan jaminan bagi setiap pekerjaan, juga merupakan tanda tawakkal kepada Allah dan permohonan bantuan dari-Nya.

2.”Bismillâh” memberi warna Ilahi kepada setiap pekerjaan, dan menyelamatkan pekerjaan-pekerjaan manusia dari bahaya syirik dan riya.

3.”Bismillâh” artinya: Ya Allah aku tidak melupakan-Mu, maka janganlah Engkau melupakan aku.

4.Orang yang mengucapkan “Bismillâh” berarti telah menggabungkan diri kepada kekuatan tak terbatas dan lautan rahmat Ilahi yang tak bertepi.

Ditulis dalam Akhlak, Bacaan Ringan | Leave a Comment »

Kuatnya niat…

Ditulis oleh HikmahIslam di/pada Februari 22, 2007

suatu hari ada seorang mu’min dipagi harinya bangun dan ingin melaksanakan sholat di masjid ketika di kegelapan di tengah jalan ia terjatuh dan seluruh bajunya dan celananya kotor, ia kemudian kembali ke rumahnya untuk mengganti pakaiannya.

untuk ke dua kalinya dia pergi ke masjid, ketika sampai di jalan yang gelap ia dengan hati-hati berjalan akan tetapi untuk kedua kalinya dia terjatuh lagi. setelah itu dia kembali pulang sesampainya dia di rumah dia mengganti pakaiannya lagi.

kemudian dia kembali lagi pergi ke masjid untuk ketiga kalinya, ketika di tengah jalan dia bertemu dengan seorang yang tua yang membawa lampu. si orang tua berkata kepadanya mari ikut aku ke masjid dengan penrangan lampuku.

kemudian si mu’min bersama orang tua itu pergi ke masjid.
sesampainya di masjid si orang tua tidak masuk ke dalam masjid. si mu’min bertanya: “kenapa kamu tidak masuk ke dalam masjid? apakah kamu tidak sholat?
orang tua menjawab: ” ya, aku tidak sholat.”
si mu’min bertanya : “kenapa kamu tidak sholat?”
orang tua menjawab: “karena, aku adalah setan”
si mu’min : (sambil terkejut bertanya) kalau kamu setan kenapa kamu mengantarku ke masjid dan menerangi jalanku dengan lampumu?
orang tua (setan) : “karena ketika kamu jatuh yang pertama itu aku yang membuatmu jatuh agar kamu tidak pergi ke masjid. akan tetapi pulang ke rumah hanya untuk mengganti pakaianmu dan kembali ke masjid. dan ketika kamu pergi ke masjid untuk yang ke dua kalinya aku juga berusaha menjegahmu ke masjid dan aku menjatuhkanmu lagi di tempat yang gelap dan kotor, akan tetapi untuk yang kedua kalinya kamu pulang ke rumah dan mengganti pakaianmu tanpa ada perubahan niat untuk pergi ke masjid.
ketika jatuhmu yang pertama kamu tetap ingin pergi ke masjid dan tidak ada perubahan dalam niatmu dan kamu pulang hanya untuk mengganti pakaian maka dengan amalmu ini Allah mengampuni dosa2mu , dan jatuhmu yang kedua tidak sedikitpun keinginanmu untuk ke masjid berkurang dan kamu kembali lagi pergi ke masjid , untuk ini Allah swt mengampuni dosa2 mu dan keluargamu, maka utk yang ketiga kalinya aku menunjuki kamu jalan dengan lampuku karena aku tidak ingin Allah mengampuni seluruh masyarakat di sekitarmu dengan perbuatanmu yang ketiga.

Ditulis dalam Bacaan Ringan, Hikmah | Leave a Comment »

“Cinta Hakiki”

Ditulis oleh HikmahIslam di/pada Februari 21, 2007

“rasa cinta dan kasih sayang akan nampak dan akan semakin membesar ketika orang yang dicintai berada jauh dari yang mencintai.”

“cinta yang sejati adalah cinta yang tempat dan waktu tidak dianggap sebagai penghalang kapanpun, dimanapun cinta tetap cinta.”

“cinta yang hakiki adalah cinta kita kepada makhluk Allah, karena Allah swt”

“kalau cinta kita karena Allah, maka waktu dan tempat tidak akan jadi penghalang bagi sang pecinta.”

“kalau kita mencintai seseorang karena Allah swt, maka kita tidak mendapat sesuatu keculai kebahagiaan dan kecintaan yang sejati dan itu adalah tujuan yang diinginkan para pecinta yang hakiki.”

“cinta kita harus lebih dahsyat kepada yang kita cintai dari cinta kita sebelumnya kalau kita mengetahui bahwa yang kita cintai mendekat kepada Allah.”

“jika semakin dekat cintanya kepada Allah maka cinta kita kepadanya harus semakin besar dan semakin dahsyat.”

“jauhnya kita dengan orang yang kita cintai demi untuk kembalinya kita dan untuk tinggalnya kita bersamanya adalah lebih baik daripada dekatnya kita dengan orang yang kita cintai tetapi untuk jauhnya kita darinya.”

“bagi para pecinta yang sejati yang kecintaannya karena Allah maka ketika yang dicintai pergi, kesepian tidak akan bisa mengganggunya karena cintanya bukan sepenuhnya karena orang yang dicintai akan tetapi cintanya sepenuhnya karena Allah sedangkan Allah selamanya selalu ada.”

Ditulis dalam Cinta, Puisi | Leave a Comment »

..Ibu..

Ditulis oleh HikmahIslam di/pada Februari 19, 2007

                                                 IBU

Hai Ibu yang mulia yang nyawaku adalah tebusan untuk mu ….

            Tebusan untuk kasih sayang, keridhoan, dan kelembutanmu…

kecintaan teman-teman akrabku selamanya tidak akan bisa menyamai kecintaan dan kasing sayangmu….

            kasih sayang dan kecintaan kepadamu tidak akan keluar dari dadaku….

dada ini adalah rumah mu dan hati ini adalah tempat tinggalmu….

            hai ibu yang tercinta yang memberi cara hidup dan kehidupan kepadaku….

sangat mudah bagiku sekarang ini untuk memberikan jiwaku kepadamu….

            kebahagiaan dan keridhoanmu adalah penyebab kebahagiaanku…

karena Ridho Allah berada di Ridhomu….

            jika kekuasaan Dunia ada di tanganku……

maka semuanya akan aku hadiahkan untukmu dan aku letakkan di kakimu……..

 

Ditulis dalam Puisi, Tentang Ibu | Leave a Comment »